Stories for You

Selama tiga tahun di SMA, aku hidup di antara keramaian yang tak pernah menoleh.
Aku ada di setiap foto kelas, tapi tak pernah diingat siapa yang berdiri di ujung itu.
Aku berbicara, tertawa, ikut dalam percakapan, namun suaraku selalu larut, seperti tetes hujan kecil yang hilang di antara badai.

Aku punya teman. Aku punya sahabat. Tapi tidak ada satu pun yang melihatku sebagai sesuatu.
Aku bukan ancaman, bukan pula panutan.
Sekadar wajah samar yang tidak pernah cukup untuk dibandingkan, tidak cukup untuk dikagumi, bahkan tidak cukup untuk diabaikan, karena untuk diabaikan pun seseorang harus terlihat dulu.

Ketika mereka sibuk memperdebatkan nilai, saling mengukur diri, saling menunjukkan hasil, aku hanya mendengarkan.
Tidak ada yang menanyakan nilainya padaku, dan itu... menyakitkan dengan cara yang sunyi.
Sebuah luka yang tak berdarah, hanya mengendap, menunggu hari di mana aku bisa membuktikan bahwa keberadaanku juga punya arti.

Malam-malamku panjang.
Di meja kecil penuh kertas lecek, aku duduk dalam cahaya redup, menatap angka-angka yang menari di halaman.
Matematika satu-satunya tempat di mana dunia terasa bisa kutaklukkan.
Jika aku tak bisa bersinar di semua, maka biarlah aku bersinar di satu hal yang paling kupahami.
Maka aku belajar, bukan untuk menang, tapi agar tidak tenggelam.
Aku belajar, bahkan ketika kepalaku berat, mataku perih, dan dadaku sesak oleh keyakinan bahwa mungkin semua ini sia-sia.

Namun di antara kelelahan itu, ada suara kecil dalam diriku yang tak mau padam
Teruslah berjalan. Tak apa tak terlihat, asal tak berhenti.

Hari ujian datang seperti badai, dingin, menakutkan, dan tak bisa dihindari.
Tanganku bergetar saat menyentuh kertas jawaban.
Setiap soal terasa seperti cermin, memantulkan setiap jam begadang, setiap tangis diam-diam yang tak seorang pun tahu.
Aku menulis bukan hanya jawaban, tapi juga seluruh perjuangan yang pernah kusembunyikan di balik diamku.

Ketika semuanya selesai, aku hanya menunduk.
Tak ada euforia, tak ada air mata. Hanya keheningan yang terasa lebih berat daripada bunyi apa pun.

Dan kemudian... hari pengumuman tiba.
Keramaian kembali menggema, tawa, sorak, tangis bahagia.
Namun di antara semua itu, satu angka berdiri tegak di layar pengumuman

Pengetahuan Kuantitatif 921.
Penalaran Matematika 891

Untuk sesaat, dunia yang dulu menembusku kini menatap.
Tatapan-tatapan yang dulu tak mengenali kini mulai mencari-cari.
Tapi aku tak menatap balik.
Aku hanya tersenyum kecil, bukan karena akhirnya dilihat,
melainkan karena aku tahu, aku sudah ada bahkan sebelum mereka menyadarinya.

Aku pernah menjadi bayangan, tapi aku tak pernah berhenti tumbuh di dalam gelap.
Dan kini, setelah segalanya, aku tak butuh sorot mata siapa pun.
Cukup bagiku tahu bahwa di antara ribuan langkah yang saling berebut cahaya,
ada satu langkah kecil, diam, namun penuh luka dan tekad
dan itu langkahku.